Rizieq Syihab Titip Salam Ke Jokowi, Maksudnya Apa ?

271

JAKARTA, (bmppnews.co.id) – Secara tak terduga, sejumlah pimpinan dan perwakilan tim advokasi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) bertemu dengan Presiden Joko Widodo, di Istana Merdeka, Jakarta hari Minggu (25/06/2017).

Menurut siaran pers yang disebarkan M. Luthfie Hakim, Plt. Sekretaris GNPF MUI, dalam pertemuan tertutup itu pimpinan GNPF menyampaikan “titipan salam” dari Rizieq Syihab. Rizieq yang Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) adalah juga Ketua Dewan Pembina GNPF.

Dalam pertemuan itu, GNPF MUI yang dipimpin langsung Ketua Bachtiar Nasir menyampaikan adanya “kesenjangan komunikasi” yang cukup kuat antara pemerintah dengan “ulama,” khususnya pada masa pemilihan gubernur (Pilgub) DKI Jakarta dan masa pasca Pilgub.
Padahal, menurut Bachtiar, GNPF hanya bermaksud menyampaikan pendapat dalam koridor demokrasi, tidak pernah mengarah ke makar. 

Dari pertemuan ini, GNPF mengharapkan dapat dibangun “saling pengertian yang lebih baik” di masa depan. Apa maksud semua ini?
Dari sudut analisis politik, yang melihat dari konstelasi kekuatan, tidak sulit menyimpulkan bahwa kubu Islam politik yang meminjam tangan GNPF MUI sudah makin melemah kekuatannya. Inisiatif pertemuan dan pihak yang “ngebet” ingin bertemu adalah dari GNPF MUI, bukan dari Jokowi.

Pernyataan Rizieq “titip salam” ke Jokowi itu bisa ditafsirkan sebagai indikasi permintaan untuk “damai,” karena sudah terdesak. Kita tidak lupa bahwa beberapa waktu lalu Rizieq bicara keras soal akan terjadi “revolusi,” jika pemerintah terus “mengkriminalisasi ulama.”

Kekuatan GNPF MUI, atau lebih tepat kubu Islam politik yang memanfaatkan kendaraan GNPF MUI, adalah pada pengerahan massa umat Islam sebagai alat penekan terhadap pemerintah. Namun, terbukti pengerahan massa itu kini tidak lagi ampuh dan sudah sulit dilakukan.
“Masa kejayaan” GNPF MUI seperti kesuksesan menggalang aksi 411 dan 212 sudah berlalu. Waktu itu, aksi bisa berlangsung karena memanfaatkan sentimen emosional umat Islam, yang mudah dipicu emosinya dan diprovokasi dengan isu “penistaan agama.”

Tanpa “isu pemersatu” itu, sulit mengumpulkan massa. Seperti dikatakan oleh seorang petinggi Muhammadiyah, lebih mudah menggalang massa untuk berdemonstrasi, ketimbang menggalang massa untuk ke perpustakaan dan belajar berbagai ilmu pengtahuan di perpustakaan.

Massa lebih mudah digerakkan untuk isu-isu reaktif emosional, untuk anti ini atau anti itu. Sebelumnya, Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) telah dijadikan “sasaran tembak bersama” dengan plintiran isu “penistaan agama.” Tetapi, sesudah Ahok masuk penjara, massa sulit dikerahkan lagi.

Padahal justru di situ letak kekuatan GNPF MUI. Tanpa massa, mereka tidak bergigi dan tidak punya posisi tawar-menawar yang tinggi. Jadi, pilihan rasional yang tersisa adalah “berdamai” atau lebih tepat “minta maaf” pada pemerintah. (***)

Sumber : c.uctalks.ucweb.com

Com is an education website that helps students in kindergarten through college excel academically and working professionals gain the https://justbuyessay.com/ skills they need to advance.